Kecerdasan Emosional Penting di Dunia Kerja, Bagaimana Cara Mengembangkannya?

Kecerdasan Emosional

Saat ini, banyak senior di organisasi atau perusahaan mengatakan bahwa keputusan untuk merekrut dan mempromosikan karyawan tidak hanya berdasar pada skill dan kecerdasan intelektual (IQ) yang dimiliki suatu pekerja, namun juga pada kecerdasan emosional atau emotional intelligence (EQ). Sebenarnya apa sih EQ dan kenapa EQ seseorang menjadi sangat penting untuk bahan pengambilan keputusan di suatu perusahaan?

Apa itu Kecerdasan Emosional?

Menurut Salovey dan Mayer, Emotional Intelligence (EQ) merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali perasaan dan emosi diri sendiri dan orang lain, dan menggunakan informasi ini untuk mengekspresikan pikiran dan perbuatannya. Kemampuan ini menjadi sangat signifikan hingga menjadi salah satu faktor yang membedakan orang-orang berpestasi tinggi dengan yang lainnya. Menurut Gemma Leigh Roberts, IQ dan personality atau kepribadian seseorang merupakan hal yang secara garis besar ditentukan oleh genetik dan memiliki sedikit peluang untuk diubah. Kabar baiknya, kecerdasan emosional adalah sesuatu yang dapat kita pelajari dan kendalikan sehingga ini menjadi suatu hal yang bisa kita improve.

Kenapa Kecerdasan Emosional Penting di Dunia Kerja? 

Memiliki emotional intelligence (EQ) yang baik dapat membantu kita mencapai pertumbuhan secara personal maupun hubungan dengan orang lain. Dalam dunia pekerjaan, tidak dipungkiri lagi bahwa kemampuan kita untuk memposisikan diri dan berkomunikasi dengan rekan kerja menjadi salah satu penentu kesuksesan. Bila kita tidak mampu membawa dan mengontrol diri sendiri, sulit bagi orang lain untuk merasa nyaman berada dekat dan berkomunikasi dengan kita.

Untuk itu, mengetahui bagaimana kita bisa improve kecerdasan emosional menjadi suatu topik yang menarik untuk dipelajari. Menurut Gemma Leigh Roberts, setidaknya ada 4 area kecerdasan emosional yang perlu kita pahami bersama.

4 Area Kecerdasan Emosional (EQ) yang Dapat Dikembangkan

  1. Self-awareness atau Kesadaran Diri

Mengenali dan merekflesikan bagaimana kita menggunakan emosi dalam pekerjaan selama ini adalah starting point yang tepat untuk kita dapat mengenal diri kita. Menurut Salovey dan Mayer, emosi adalah respon seseorang terhadap suatu kejadian atau event, baik internal maupun eksternal, yang memiliki arti positif maupun negatif terhadap suatu individu. Pernakah kita berteriak kepada seseorang setelah orang tersebut bertindak sesuatu buruk terhadap kita? Apa penyebabnya sehingga kita bisa marah?

Step pertama yang perlu kita ketahui, emosi kita berada di tengah-tengah event atau kejadian dengan behavior atau tingkah laku. Ketika ada seseorang yang menyerobot antrian di depan kita, kita akan merasa tidak nyaman dan kesal. Dalam hal ini, event atau kejadian nya adalah seseorang menyerobot antrian. Kemudian, emosi merupakan respon kita terhadap kejadian tersebut, dimana kita merasa kesal. Yang terakhir, behavior atau tingkah laku kita adalah berteriak kepada orang tersebut.

Nah, sekarang coba kita berpikir. Apakah kita memiliki kontrol terhadap event? Tentu tidak, tapi yang bisa kita kendali adalah emosi atau respon kita.

  1. Managing Youself atau Regulasi Diri

Setelah kita menyadari bahwa kita memiliki kontrol atas emosi atau perasaan, kita dapat mencoba teknik A-B-C-D-E yang dikembangkan oleh Albert Ellis untuk challenge perasaan tersebut.

A: Activating Event -> Kejadian yang terjadi. Dalam hal ini, ada orang menyerobot antrian

B: Belief -> Pemikiran kogntif kita atas kejadian tersebut, dimana kita percaya bahwa orang tersebut tidak mengerti aturan

C: Consequences -> Konsekuensi dari pemikiran kognitif diatas. Disini, kita menjadi marah dan berteriak pada orang tersebut

D: Disruptive thinking -> Hal ini adalah yang menjadi faktor penting untuk meregulasi diri. Di step ini, kita coba challenge belief kita terhadap event tersebut dengan cara melihat suatu kejadian dalam perspektif yang berbeda. Coba kita berpikir, mungkin orang tersebut ada suatu hal penting yang membuatnya terburu-buru.

E: Effect -> Melalui disruptive thinking yang telah dilakukan, kita akan memiliki respon yang lebih positif terhadap suatu event

Nah, coba sekarang Sobat ACE ingat-ingat, kapan terakhir kali kalian merasa marah dan kesal? Apa penyebabnya? Akankah respon hati kalian bisa berubah bila kalian mencoba untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda?

  1. Social Awareness atau Kesadaran Sosial

Hal yang tidak kalah pentingnya dengan self-awareness adalah social awareness. Dalam hal ini, kesadaran sosial adalah kemampuan untuk mengerti emosi orang lain dan meresponi kebutuhan mereka. Social awareness adalah hal yang tidak bisa dipelajari sendiri tanpa kita memiliki jam terbang yang tinggi dengan bertemu dan bersosialisasi dengan orang lain. Tentunya, kita tidak akan bisa 100% menebak apa yang orang lain rasakan karena mereka lah yang paling tahu. Akan tetapi, kita bisa belajar mengenal emosi dan perasaan orang lain memalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan nada berbicara mereka.

Perlu kita ingat bahwa communication skill yang baik tidak hanya berhenti pada kemampuan untuk menyampaikan pesan kita terhadap orang lain, tapi juga mengumpulkan informasi dari orang tersebut. Komunikasi yang baik selalu memiliki dua arah. Satu-satunya cara untuk tahu emosi dan perasaan orang lain adalah dengan mendengarkan, termasuk bahasa tubuh dan eskpresi wajah seseorang. Hal ini akan membantu kita untuk memiliki kesadaran sosial yang tinggi dan nantinya akan memberi dampak positif terhadap hubungan kita dengan orang lain.

  1. Relationship Managament atau Membangun Hubungan dengan Orang Lain

Ketika kita mengetahui pentingnya self-awareness, kemampuan untuk meregulasi diri, dan social awareness, hal terakhir yang kita dapat maksimalkan dengan emotional intelligence adalah hubungan dengan orang lain. Ini adalah hal yang sangat penting apabila kita mau terus maju di dunia kerja. Untuk mengembangkan kecerdasan emosional dalam area ini, Sobat ACE perlu memiliki welcoming presence sehingga orang lain akan merasa nyaman dekat dengan kita. Ingat, kita harus bersikap genuine dan authentic dalam membangun hubungan, tidak semata-mata ingin dipromosikan atau mencari keuntungan. Pada dasarnya, orang bisa menilai apabila sesuatu yang kita kerjakan adalah dari hati atau cari muka saja.

Selain itu, penting untuk kita mengumpulkan feedback dari orang lain tentang diri kita sendiri. Salah satu cara untuk mengetahui apakah kita telah memiliki relationship management skill yang baik adalah dengan menyakannya kepada orang lain. Cobalah untuk melihat diri kalian dari perspektif yang berbeda tanpa bersikap defensif dan self-critical. Dalam hal ini, Sobat ACE tidak udah takut untuk mempersiapkan sesuatu sebelum meminta feedback, karena kalian hanya perlu bertanya.

Yang terakhir, perlu kita ingat bahwa relationship management skill bertujuan untuk menyelaraskan tujuan dan impact yang mau kita capai dengan orang lain. Kita harus lebih fokus pada apa yang kita mau orang lain dapat dari message kita, daripada menunjukkan kalau opini atau pendapat kita adalah yang paling benar.

Nah, berikut adalah 4 area Emotional Intelligence yang dapat Sobat ACE kembangkan untuk meningkatkan kemampuan kita mengendalikan emosi. Semoga tips ini berguna bagi Sobat ACE yang ingin terus mengembangkan diri dan usaha ya! Jika Sobat ACE ada pertanyaan, boleh tuliskan comment di bawah ini. Jangan lupa juga untuk subscribe ACE Commerce Community untuk konten seputar entrepreneurship dan upgrade diri lain nya. Untuk kalian yang mau belajar lebih dalam, bisa cek juga Online Course kita website ini.

Related Articles

Responses

Your email address will not be published.

Our ACE team is here to answer your questions. Ask us anything!