Bagaimana Prediksi Perkembangan E-Commerce Tahun 2020?

Halo sobat komunitas Amazing Cross-Border E-Commerce!

Setiap pergantian tahun pastinya ada harapan dan pencapaian baru yang ingin diraih serta Mindset yang lebih segar, begitu pula dengan bisnis E-Commerce, terutama di Indonesia. Di akhir tahun 2019 ini saja, dari kuartal ketiga peta persaingan E-Commerce di Indonesia yang bersumber atas pengumpulan data dari IPrice & Similar Web, 5 besar toko online masih didominasi oleh nama-nama besar sepertinya Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Lazada & Blibli dengan jumlah pengunjung web bulanan mencapai kisaran 20 juta sampai 60 juta lebih pengunjung. Pada kuartal ketiga juga, E-Commerce kategori fashion menunjukkan peningkatan eksistensinya dengan jumlah 16 E-Commerce. Zalora dan Sophie Paris memimpin kategori fashion dengan jumlah kunjungan web di range 1 juta sampai 2 juta lebih pengunjung. 

Kembali ke pertengahan tahun 2019, dari bisnis UMKM di Indonesia sendiri dimana dari total 58 juta UMKM yang ada, hanya 14% atau sekitar 8 juta UMKM yang berhasil masuk ke E-Commerce (Source: CNBC). Angka tersebut terbilang belum cukup baik, mengingat himbauan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Oktober lalu bahwa pelaku UMKM harus memanfaatkan E-Commerce semaksimal mungkin karena dapat menunjang efektivitas dan inklusivitasnya. Kemudian BI sebagai induk banking di Indonesia menuturkan pula, tahun 2019 jumlah transaksi perdagangan online setiap bulannya mencapai Rp 13 triliun.

Lalu, bagaimana dengan perkembangan E-Commerce tahun 2020 secara global? Tantangan E-Commerce seperti apa yang mungkin terjadi? 

1. Pertumbuhan Belanja E-Commerce

Menurut prediksi yang dihimpun oleh Mckinsey & Company, pertumbuhan belanja E-Commerce bisa mencapai US$ 55 miliar hingga US$ 65 miliar (sekitar Rp 910 triliun) pada 2020. Mckinsey juga memberikan prediksinya terhadap penetrasi belanja online masyarakat Indonesia dengan angka mencapai 83% tahun 2020. Perdagangan secara digital akan lebih berkembang seiring dengan persaingan yang semakin ketat sehingga pelaku di dalam E-Commerce dituntut untuk melakukan inovasi untuk meningkatkan marketing dan brandingnya. 

2. Fokus ke “D2C”

Bagi pelaku ecommerce, sudahlah paham dan familiar dengan business-to-business (B2B), business-to-customer (B2C) & customer-to-customer (C2C). namun di tahun 2020, fokus dalam ecommerce kemungkinan beralih kepada direct-to-customer (D2C). secara sederhananya, hasil produksi barang yang berasal dari manufaktur atau pabrik akan dipasarkan langsung ke online, apakah itu melalui advertising atau website dan kemudian langsung ke tangan customer. Ini berbeda dengan cara yang lumrah digunakan (tradisional retailer) yang melalui tahap-tahap seperti wholesaler, distributor dan retailer sendiri. Keuntungan dari D2C ini seperti

Bisnis D2C mempercepat koneksi perdagangan dunia
Source: Pathmatics
  • Kemampuan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dan lebih dalam dengan pelanggan kamu
  • Kemampuan untuk mendapatkan produk ke pasar dengan cepat, memungkinkan kamu memanfaatkan tren tersebut saat baru muncul
  • Memiliki kontrol penuh atas produk merek kamu, meliputi reputasinya 

3. Ekspansi opsi Fulfillment

Terdapat 3 faktor penting mengapa ekspansi fulfillment semakin membesar di tahun 2020. Ketika peningkatan efisiensi dan efektivitas dari ongkos kirim, durasi pengiriman atau distribusi barang dan opsi pengiriman yang bervariasi, akan meningkatkan kemungkinan bisnis ecommerce melalui segment fulfillment dan menghadirkan solusi baru untuk mengatasi tingginya rate dari abandonment cart.

4. Chatbot & AI menjadi standar perangkat ecommerce

Dua istilah tersebut, terutama AI (Artificial Intelligence) sudah cukup familiar di masyarakat khususnya pengguna maupun penyedia ecommerce. Menurut hubspot, terdapat 48% dari customer memiliki preferensi untuk berkoneksi dengan ecommerce dengan menggunakan live chat dibanding opsi kontak lainnya sedangkan menurut Ubisend, terdapat 35% customer menginginkan ecommerce menggunakan fitur chatbots. Kamu bisa dari sekarang untuk menggunakan chatbot builder untuk mendorong keterlibatan yang intensif, peningkatan penjualan, dan dukungan pelanggan yang lebih baik.

Perkembangan teknologi yang melahirkan fitur Chatbot & AI mampu membantu percepatan ecommerce
Source: Top Business Tech

5. Perkembangan PWA

Apakah PWA itu? Ialah Progressive Web App yang bisa dibilang berfokus kepada situs web yang aplikatif dan menyesuaikan dengan nuansa seluler mobile asli. Program PWA sudah digunakan dalam platform seperti twitter dan Gmail, yang kemudian digadang-gadang akan merembetkan penggunaannya di website ecommerce yang lebih besar dibandingkan tahun 2019. Menurut Snipcart, PWA memiliki tiga prinsip penting; reliability, performance, engagement. Fitur yang kompleks dalam website ecommerce dengan PWA mensinergikan semua browser atau koneksi, service workers, home screen install, push notifications, HTTPS & Linkable.

Banyak sekali berbagai potensi dan prediksi dari pengembangan bisnis-bisnis yang termasuk atau berada dalam ecommerce bukan? Jika kamu curious dengan artikel ini atau punya ide/saran baru untuk topik artikel/konten sosial media ACE Commerce bisa mengisi ke kolom komentar dibawah ini. Kunjungi sosial media komunitas ACE Commerce, karena banyak konten mengenai tips tentang entrepreneur, Cross-Border & E-Commerce terkini dan wawancara eksklusif dengan tokoh-tokoh entrepreneur sukses!

Instagram : acecommerceid & acecommerceorg
Youtube : ACE Commerce ID 

Related Articles

Responses

Your email address will not be published.

Our ACE team is here to answer your questions. Ask us anything!