3 PRINSIP PENTING UNTUK BISNIS PASCA PANDEMI COVID-19

Bisnis pada masa pandemi

Pandemi COVID-19 mengakibatkan jatuhnya banyak bisnis di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Dampak terberat tentu saja secara langsung dirasakan oleh pengusaha skala kecil / UMKM maupun perusahaan besar. Manusia harus beradaptasi dengan digitalisasi dan teknologi yang berkembang dengan pesat. Pandemi ini merupakan salah satu yang mempercepat penggunaan teknologi digital. Pandemi sendiri mengajarkan kita untuk selalu memiliki rencana di saat terburuk dan memprioritaskan beberapa hal penting dalam membangun bisnis kita di masa depan. Hal ini termasuk bagaimana cara mengembangkan bisnis pasca pandemi nanti.

Prinsip Bisnis Pasca Pandemi Covid-19

Pada artikel sebelumnya sudah dijelaskan mengenai langkah-langkah apa saja yang Anda bisa lakukan agar tetap sukses di tengah pandemi COVID-19. Maka untuk pasca pandemi nanti, sudah seharusnya Anda memprioritaskan beberapa hal penting dan membangun bisnis berdasarkan prinsip-prinsip ini.

1. Budaya Adaptif

Adaptif adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan / krisis melalui cara yang efisien namun tetap menjaga kualitas produk atau layanan bisnis. Bisnis yang bertahan sejauh ini adalah mereka yang mampu membuat perubahan yang disesuaikan dengan situasi dalam berbisnis di tengah pandemi.

Salah satu bisnis yang terdampak dari pandemi COVID-19 adalah industri FnB (Food and Beverage). Seperti yang Anda ketahui bahwa restaurant tidak lagi menyediakan layanan dine-in dikarenakan adanya peraturan terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Peraturan baru ini menuntut industri FnB untuk menciptan strategi baru melalui B2C seperti menjual produk frozen food. Bahkan beberapa restaurant kini menawarkan pengalaman menikmati fine dining dari rumah bagi mereka yang merindukannya.

Anda dapat menciptakan inovasi baru dengan cara mengeksplorasi hal yang sedang dibutuhkan oleh konsumendi tengah pandemi melalui penerapan model bisnis baru, platform baru, maupun strategi baru. Cara tersebut dapat diterapkan oleh bisnis Anda agar selalu adaptif dalam bertahan pada kodisi apapun dan tidak terjebak dalam berbagai kemungkinan buruk.

2. Budaya Empati

Dengan diterbitkannya berbagai kebijakan oleh pemerintah terkait pencegahan penyebaran COVID-19, banyak konsumen yang diprediksi akan mengalami penurunan daya beli. Jika hal tersebut terjadi, maka konsumen dihadapkan pada beban berat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, strategi perusahaan dalam berempati kepada konsumen di tengah pandemi ini bisa menjadi langkah strategis dalam membuktikan dan memperkuat level kualitas pelayanan perusahaan kepada konsumen-nya.

Belakangan ini kita melihat dengan jelas terkait perusahaan-perusahaan yang mampu berkontribusi kepada permasalahan sosial khususnya di masa pandemi. Beberapa perusahaan tersebut melalui programnya melakukan galang dana, donasi dalam bentuk sembako, masker, maupun APD kepada para tenaga kesehatan untuk membantu mereka yang terdampak wabah virus corona.

Langkah beberapa perusaahaan tersebut adalah contoh upaya yang berorientasi pada rasa empati. Praktis kebijakan tersebut tentunya dapat meringankan beban konsumen yang mengalami masa sulit di tengah pandemi COVID-19. Lalu, secara simultan konsumen akan menilai bahwa perusahaan tersebut memiliki kualitas layanan yang baik kepada konsumen-nya, apalagi jika kebijakan tersebut merupakan inisiatif yang datang langsung dari perusahaan.

Di tengah arus informasi yang terbuka saat ini, konsumen dapat mengakses secara terbuka untuk menilai sejauh mana kualitas layanan perusahaan Anda. Hasilnya, jika strategi untuk berempati dinilai memberikan value berarti bagi konsumen karena memiliki manfaat dalam mendukung aktivitas, maka perusahaan Anda secara otomatis akan mendapatkan feedback positif berupa simpati konsumen secara khusus dan simpati pasar secara luas. Di masa mendatang, bisnis sudah seharusnya juga dapat bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi nirlaba untuk campur tangan dalam kegiatan sosial.

3. Layanan yang Terdigitalisasi

Banyak kebiasaan yang dilakukan selama masa pandemi seperti sistem pembayaran cashless, belanja online, dan berbagai layanan digital lain yang intensitas penggunaa-nya di Indonesia semakin meningkat. Menurut suvey, 40% konsumen mengatakan akan tetap menggunakan layanan digital ini pasca pandemi COVID-19 layaknya seperti penggunaan saat ini. Bahkan, 37% lainnya berencana untuk meningkatkan penggunaannya. Adapun, sisanya kembali menurunkan penggunaan layanan digital seperti sebelum pandemi. Dari data tersebut, kita dapat mengetahui bahwa tren digitalisasi ini akan tetap eksis di masa depan.

Salah satu layanan yang dirasa cukup meningkat akibat pandemi adalah sistem pembayaran cashless. Layanan tersebut otomatis berdampak pada turunnya penggunaan uang tunai dan mesin ATM. Hal ini dikarenakan beralihnya minat masyarakat ke metode pembayaran digital yang relatif lebih mudah dan nyaman. Semakin tingginya minat masyarakat dalam menggunakan layanan tersebut menuntut para pemilik bisnis untuk dapat mempersiapkan digitalisasi bisnis-nya. Cara tersebut baik digunakan guna mempertahankan konsumen dan memastikan kesuksesan bisnis Anda di masa pasca pandemi nanti.

Nah, seperti itulah bagaimana pandemi COVID-19 telah memberikan kita beberapa pelajaran yang sulit.  Namun, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak dapat berkembang secara positif dalam membangun bisnis yang cerdas, adaptif, dan menguntungkan.

Semoga edukasi di atas dapat bermanfaat untuk bisnis Sobat ACE di masa pasca pandemi nanti, ya! Jika Sobat ACE ada pertanyaan mengenai bisnis, Sobat ACE dapat meninggalkan komentar di bawah ini. Untuk belajar lebih lanjut, Sobat ACE bisa mendaftarkan diri di website acecommerce.org dan juga bisa join dengan online course di website dimana ada berbagai pengertahuan baru mengenai bisnis.

Related Articles

Responses

Your email address will not be published.

Our ACE team is here to answer your questions. Ask us anything!